INDRAMAYU — Akademisi sekaligus Guru Besar Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof. Ir. Muhammad Iqbal Djawad, M.Sc., Ph.D., menegaskan pentingnya pembentukan kurikulum yang berani dan visioner tanpa jalan untuk kembali (point of no return) di Mahad Al-Zaytun. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi tamu pembicara pada Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026 di Mahad Al-Zaytun, Indramayu.
Prof. Iqbal menyoroti bahwa dunia pendidikan tinggi tidak boleh lagi sekadar melatih mahasiswa agar siap kerja, melainkan harus membentuk peserta didik yang berpikir kritis, mandiri, dan berani menghadapi tantangan peradaban. Menurutnya, tiga pilar utama Tridharma Perguruan Tinggi harus menjadi area strategis untuk mendorong budaya belajar yang transformatif dan memenuhi standar internasional.
“Seluruh aset pendidikan harus dikelola secara mandiri untuk peradaban manusia. Visi Al-Zaytun tidak boleh hanya mengikuti perkembangan zaman, tetapi harus menciptakan perubahan,” tegas Prof. Iqbal.
Ia menilai visi Al-Zaytun sangat strategis karena tanggap terhadap konstelasi geopolitik global. Lingkungan belajar berkualitas, pelestarian ilmu pengetahuan, seni, budaya, hingga pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) menjadikan Al-Zaytun sebagai institusi penyiapan modal manusia (human capital) yang siap menyongsong Visi 2050 sebagai agen perubahan.
Lebih lanjut, Prof. Iqbal mendorong agar Politeknik Al-Zaytun bertransformasi menjadi pusat inovasi sosial dan pelayan pengetahuan (knowledge server) yang membuka peluang hilirisasi riset. Ia menekankan pentingnya kemitraan strategis dan jejaring ekosistem dengan industri serta pemerintah.
“Diperlukan transformasi budaya melalui lompatan radikal, keteladanan, dan konsistensi cita-cita. Politeknik Al-Zaytun harus menetapkan nilai-nilai baru yang menginspirasi, ambisius, serta bertindak sebagai inkubator inovasi tempat ide-ide tumbuh cepat untuk menjawab tantangan global,” pungkasnya.
